Prolog

Si pemuda menatap kosong, ditangannya tergenggam sebuah boneka kayu setinggi dua jengkal telapak tangan orang dewasa. Berdiri dalam simbahan air hujan, menangis sesal tanpa bisa berucap apa-apa. Dalam situasi seperti ini, terkadang guliran air yang menyapu seluruh tubuh dan wajahnya memang sangat dibutuhkan, seakan menghanyutkan seluruh kesedihan dan tangis air matanya ke hamparan tanah kosong persawahan.

Dia sendiri, berdiri lelah di tepian pagi.

Di perbatasan desa ini, dia sengaja mematung. Menatap kosong atap rumah-rumah desa yang terlihat berundak-undak di kejauhan. Dia sengaja membiarkan dirinya diguyur dan kuyup, seolah ingin mencuci bersih semua kedukaan ditubuhnya.

Kemarin tempatnya bediri ini masih kering kerontang, tandus dan gersang. Puluhan bulan ratusan hari, tidak ada setetes air pun yang jatuh dari langit. Bahkan embun pagi pun seolah enggan menampakan wajahnya di pucuk dedaunan pagi. Entah apa masalahnya, desa tempat tanah kelahirannya ini seolah dijauhi gumpalan awan-awan kelam. Yang ada hanya kekosongan langit lepas, sehingga cahaya matahari dapat masuk tanpa penghalang.

Ternak banyak mati, tanaman menggugurkan diri, busung lapar menghinggapi, kering kerontang menyergapi, sumur dan mata air pun terkalahi. Setelah bertahan sekuat menahan, akhirnya pertahanannya pun bobol juga. Mata air tak lagi meneteskan airnya, sumur tak lagi bergenang, haus dan kering kerongkongan seolah menawarkan diri untuk menjadi sahabat semua penduduk saat itu.

Si pemuda ingat betul, saat dia tidak sanggup melihat apa yang terjadi dengan para penduduk desanya, para kerabat, sahabat dan saudara-saudaranya, dia mengucilkan diri di pedalaman hutan.

Awal langkahnya sebenarnya tanpa tujuan, namun sekumpulan anak panah dan busur yang dibawanya mengindikasikan kalau kepergiannya ini adalah untuk berburu. Jauh berjalan, terus ke pedalaman hingga sulit diterka berapa langkah yang sudah dilaluinya.

Tap tap tap.....

Yang bisa diingatnya adalah, bagaimana mendapaatkan buruan, menemukan mata air, atau apa pun yang bisa dipergunakannya untuk keselamatan para penduduk desanya. Namun waktu-waktu berlalu, tidak ada seekor buruan, mata air, buah-buahan atau apa pun yang ditemukannya. Hutan ini seolah kosong, tanpa penghuni dan tidak ada kehidupan. Kemana mata memandang, yang ada hanya dahan pohon, dedaunan dan semak belukar.

Mimpi tetap terjaga, harapan tetap membuai, semoga yang diangankan taraih. Setidaknya itu yang ada di benak si pemuda dipenghujung lelah langkahnya. Dalam keadaan peluh kering di badan, kumal, nafas senin kemis, si pemuda terduduk di bibir gua yang ditemuinya. Entah dibagian hutan sebelah mana dirinya berada saat ini, yang jelas dia lelah dan ingin membaringkan tubuhnya sejenak.

Kering kerontang, tandus, tanpa makan dan minum, ternak habis, sumur dan mata air berpuasa diri, lelah dan segala macam permasalahan hidup seolah melambai-lambai dalam pikirannya. Tidak heran kalau akhirnya akar dan dahan masalah-masalah itu kini menjelma menjadi bunga tidur.

Si pemuda bermimpi...